Di Balik Wajah yang Tak Siap, Ada Pelajaran untuk Menghadapi Bencana
By : NARABISA
Diterbitkan pada 21 Aug 2026, 00:17 WIB
Medan 20 Agustus 2026, Hari kedua pameran fotografi Prahara Pulau Emas di Atrium Utara Plaza Medan Fair, Kamis (20/8/2026), tidak hanya menyajikan rangkaian visual tentang bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat. Pameran yang digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan bersama mitra pendukungnya itu juga menjadi ruang edukasi publik melalui coach clinic dan diskusi mitigasi bencana.

Mengangkat pengalaman bencana Aceh Tamiang sebagai salah satu fokus pembahasan, kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai latar belakang yaitu
- Muhammad Yamin Daulay, S.E., Penata BPBD Kota Medan
- Dr. Muhammad Said Harahap, akademisi Muhammadiyah
- Kak Ama, relawan dari Sekolah Inspirasi Bangsa
- Kepala Dinas (Damkarmat) Kota Medan Wandro Abadi Agnellus Malau, S.STP
- Marcom Manager Plaza Medan Fair Lenny Yun Manalu.
Peserta coach clinic berasal dari kalangan generasi muda, yakni mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Universitas Syiah Kuala, serta siswa SMK Negeri 9 dan SMK Muhammadiyah 8.
Dr. Muhammad Said Harahap mengatakan, pameran fotografi tersebut memiliki fungsi penting sebagai sarana edukasi masyarakat mengenai kondisi nyata yang terjadi saat bencana. Menurutnya, foto jurnalistik dapat menjadi medium untuk memperlihatkan fakta sekaligus membantu meminimalisasi penyebaran informasi palsu atau hoaks. “Pameran ini diadakan sebagai edukasi kepada khalayak ramai bahwa kejadian sebenarnya adalah seperti yang kami alami. Kami bekerja untuk meminimalisir berita hoaks terhadap suatu bencana,” ujarnya.

Ia mengingatkan generasi muda, termasuk generasi Alpha, bahwa Indonesia berada dalam kawasan Ring of Fire sehingga tidak terlepas dari ancaman bencana tektonik maupun vulkanik. Karena itu, kesiapsiagaan perlu dibangun sejak dini agar masyarakat mampu memahami risiko dan mengambil tindakan ketika bencana terjadi.
Sementara itu, Muhammad Yamin Daulay menegaskan bahwa bencana tidak mengenal waktu maupun siapa korbannya.
“Bencana tidak mengenal kalender dan tidak mengenal orang,” katanya.
Dalam pemaparannya, Yamin menjelaskan bahwa mitigasi merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko dan dampak bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.
Ia mengajak mahasiswa dan siswa yang hadir untuk mengenali berbagai tanda keselamatan, khususnya rambu-rambu evakuasi. Menurutnya, pengetahuan sederhana mengenai jalur evakuasi dapat menjadi penentu keselamatan ketika seseorang berada di lokasi yang terdampak bencana.
Yamin juga mengingatkan masyarakat agar menyiapkan perlengkapan darurat sebelum bencana terjadi. Dokumen dan surat berharga, senter, kotak P3K, serta obat-obatan sebaiknya ditempatkan dalam satu emergency box yang mudah dibawa ketika evakuasi diperlukan.

Dari sisi penyelamatan, Wandro Abadi Agnellus Malau menjelaskan bahwa Damkarmat tidak hanya bertugas menangani kebakaran, tetapi juga menjalankan berbagai operasi penyelamatan masyarakat.
“Tugas kami yang terutama adalah penyelamatan berbagai aspek. Terkadang kami juga menerima penyelamatan terhadap hal-hal kecil yang terjadi di masyarakat,” katanya.
Wandro menambahkan, proses penyelamatan membutuhkan sinergi lintas instansi agar potensi kesalahan dapat diminimalkan dan masyarakat yang menjadi korban dapat segera diselamatkan.
Sementara itu, Kak Ama membagikan pengalaman personal ketika banjir bandang menerjang Desa Lintang Bawah, Aceh Tamiang. Setelah berupaya menyelamatkan orang tua dan keluarganya, ia kemudian turun membantu masyarakat yang masih berjuang mempertahankan hidup di tengah kondisi bencana.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa di balik sebuah foto bencana terdapat manusia dengan cerita, ketakutan, keberanian, dan keputusan sulit yang harus diambil dalam hitungan waktu.
Dukungan terhadap kegiatan kemanusiaan juga datang dari pengelola Plaza Medan Fair. Lenny Yun Manalu mengatakan pihaknya tidak hanya memandang pusat perbelanjaan dari sisi ekonomi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami musibah.
“Kami sebagai bagian dari Lippo Mall bukan saja memikirkan bagaimana nilai ekonomi yang masuk ke gedung ini, akan tetapi kami juga berupaya membantu masyarakat Aceh Tamiang yang terkena bencana,” ujarnya.

Menurut Lenny, Plaza Medan Fair mengoordinasikan para tenant dan karyawan yang ingin memberikan bantuan untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat terdampak.
Hari kedua Prahara Pulau Emas akhirnya tidak sekadar menjadi ruang melihat foto. Ia berubah menjadi ruang belajar tentang kesiapsiagaan, solidaritas, dan kemanusiaan. Di balik wajah-wajah yang tak siap menghadapi bencana, terdapat pelajaran bahwa kesiapan tidak seharusnya dimulai setelah bencana datang, tetapi jauh sebelumnya. narabisa/cmth