Ketika Dua Waktu Menjadi Satu menjadi bagian sejarah
By : NARABISA
Diterbitkan pada 06 Jun 2026, 22:09 WIB
Medan, 06 Juni 20206. Tepat pukul 12.00 WIB, angka pada jam tangan dan Jam Gadang berada dalam keselarasan yang sama. Momen ini menjadi simbol perjalanan 100 tahun Jam Gadang 1926–2026 yang tetap setia menjaga ritme kehidupan Bukittinggi.
Di tengah perubahan generasi, menara bersejarah ini terus menjalankan perannya sebagai penanda waktu sekaligus penjaga ingatan kolektif masyarakat. Semboyan “Detak Jantung Ibu Kota” bukan sekadar kalimat peringatan, melainkan cerminan denyut kota yang tumbuh, bergerak, dan bertahan bersama Jam Gadang selama satu abad perjalanan sejarahnya.

Di jantung Bukittinggi, Jam Gadang terus menjadi penanda perjalanan sejarah yang tak pernah berhenti berdetak. Kehadirannya melampaui fungsi penunjuk waktu, menjadi saksi perubahan zaman dari era kolonial hingga era digital. Di hadapannya, layar jam modern menampilkan angka yang sama.
Hal ini menegaskan bahwa teknologi boleh berkembang, tetapi waktu tetap berjalan dalam irama yang serupa. Selama satu abad, Jam Gadang tidak hanya mengukur menit dan detik, melainkan juga merekam denyut kehidupan masyarakat Minangkabau, menjaga ingatan kolektif, serta menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu putaran waktu yang sama. narabisa/cmth