PASAR DIGITAL DAN TANTANGAN KAPASITAS UMKM SAPU LIDI
By : NARABISA
Diterbitkan pada 31 Aug 2026, 21:45 WIB
MEDAN, SUMATERA UTARA 31 Agustus 2026 — Sinar matahari mulai meninggi di kawasan Pasar 2 Timur, Marelan, Medan, Sumatera Utara, namun kesibukan di salah satu sudut area permukiman tersebut telah berlangsung sejak pagi. Suara pukulan kayu dan gesekan lidi saling bersahut-sahutan dari sebuah bengkel kerajinan rumahan sederhana. Di tempat inilah, Pak Nasution bersama anggota keluarganya memproduksi ribuan kerajinan sapu lidi yang menjadi salah satu penopang ekonomi lokal. Usaha mikro yang digeluti sejak tahun 2014 tersebut memanfaatkan bahan baku utama berupa lidi kelapa sawit yang diperoleh langsung dari hasil pengumpulan masyarakat di sekitar kawasan perkebunan Sembahe dan Tembung.

Pengolahan limbah perkebunan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi ini tidak hanya memberikan nilai tambah bagi bahan baku lokal, tetapi juga membuka rantai pasok bagi warga sekitar. Bahan lidi yang diserap dari para pengepul lokal diolah sedemikian rupa melalui serangkaian proses manual, mulai dari pembersihan, penyortiran, pengikatan dengan kawat, hingga penganyaman gagang menggunakan rotan dan eceng gondok. Dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, kualitas pengerjaan yang konsisten membuat produk sapu lidi asal Marelan ini berhasil menembus berbagai wilayah di luar Medan, seperti Banda Aceh, Bireuen, Riau, Pasaman Barat, hingga Nias Selatan.
Di bawah pengelolaan Pak Nasution, unit usaha ini melibatkan enam orang tenaga kerja yang seluruhnya merupakan anggota keluarga. Dengan pembagian tugas yang terstruktur, satu orang pekerja mampu menyelesaikan sekitar 100 batang sapu lidi dalam kurun waktu delapan jam kerja sehari. Dalam kondisi operasional normal, kapasitas produksi bengkel ini mampu menembus angka lebih dari 2.000 batang sapu lidi per bulan, dengan estimasi nilai perputaran kotor mencapai puluhan juta rupiah. Jumlah tersebut bahkan dapat melonjak hingga 3.000 batang per bulan apabila terdapat lonjakan permintaan atau pesanan khusus dalam skala besar.

Kendati memiliki potensi pasar yang luas serta jaringan distribusi yang telah menjangkau berbagai wilayah di Pulau Sumatra, pengembangan usaha ini masih dihadapkan pada tantangan fundamental terkait kapasitas produksi dan ketersediaan tenaga kerja. Lokasi Marelan yang berdampingan langsung dengan kawasan industri membuat penyerapan tenaga kerja lokal lebih banyak tersedot ke sektor pabrik formal. Akibat keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) tersebut, banyak pesanan produk yang terpaksa tertunda atau tidak dapat dipenuhi secara maksimal. Pak Nasution mengestimasi bahwa untuk memenuhi potensi pasar yang ada secara ideal, unit usahanya membutuhkan setidaknya 12 orang tenaga kerja terlatih.

Tantangan kapasitas ini berdampak langsung pada kesiapan UMKM dalam mengadopsi dan memanfaatkan ekosistem digital secara penuh. Pemasaran produk sejauh ini masih bertumpu pada jaringan penjualan konvensional, grosir lintas daerah, serta pemanfaatan media sosial secara terbatas. Peluang besar untuk merambah marketplace digital seperti Shopee yang menawarkan jangkauan konsumen skala nasional secara langsung belum dapat dioptimalkan secara mandiri akibat kekhawatiran ketidakmampuan memenuhi kuantitas permintaan yang tinggi secara konsisten.
Keberadaan platform digital dan penetrasi e-commerce memberikan alternatif akses pasar yang sangat transparan dan efisien bagi pelaku UMKM sektor kriya. Namun, kasus kerajinan sapu lidi Marelan menunjukkan bahwa integrasi pemasaran digital tidak sekadar membutuhkan kesiapan sarana aplikasi atau etalase toko daring semata. Peningkatan kapasitas produksi, efisiensi rantai pasok, hingga pendampingan manajemen SDM menjadi faktor krusial yang harus berjalan berdampingan. Sinergi antara modernisasi pemasaran digital dan penguatan kapasitas manufaktur lokal menjadi kunci utama agar kerajinan berbasis sumber daya daerah ini mampu naik kelas secara berkelanjutan di tengah persaingan pasar nasional. narabisa/cmth