EKONOMI

Dari Paluh Baji, Sampan Penopang Nelayan Pesisir Deli Serdang

By : NARABISA

Diterbitkan pada 23 Jul 2026, 20:39 WIB

Deliserdang. 23 Juli 2027. Di bawah rimbunnya pohon kelapa dan kelapa sawit di kawasan Paluh Baji, Desa Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, seorang pria bernama Zulfan tak henti mengayunkan palu di antara rusuk-rusuk kayu yang melengkung membentuk kerangka perahu berukuran besar. Keringat membasahi kemejanya yang basah, namun tangannya tetap cekatan menempatkan paku demi paku pada lunas kayu yang keras. Di sekelilingnya, potongan papan, batang kayu gelondongan, dan serpihan serutan berserakan di tanah berpasir, menjadi saksi bisu dari proses panjang membangun sebuah sampan dari nol.

Zulfan bukan sembarang tukang kayu. Ia adalah salah satu pengrajin sampan tradisional yang usahanya telah menjadi tumpuan bagi ratusan nelayan di pesisir timur Sumatera Utara. Sampan buatannya tidak hanya digunakan oleh nelayan di Kecamatan Pantai Labu, tetapi juga merambah ke wilayah Serdang Bedagai (Sergai) dan kecamatan-kecamatan sekitarnya. Bagi nelayan kecil yang menggantungkan hidup dari hasil laut, perahu bukan sekadar alat transportasi, melainkan nyawa kedua yang menentukan apakah mereka bisa melaut hari itu, membawa pulang ikan, dan menghidupi keluarga.

 

Proses pembuatan satu unit sampan bukan perkara singkat. Dimulai dari pemilihan kayu gelondongan yang ditebang dan dibelah dengan gergaji mesin di lokasi terbuka, lalu dibentuk menjadi papan-papan lambung yang kemudian dirakit menyerupai rangka tulang ikan raksasa. Setiap lengkungan kayu harus disesuaikan dengan presisi agar perahu kelak seimbang saat mengapung dan mampu menahan hantaman ombak. Di bawah terpal biru dan atap seadanya yang menjadi pelindung dari terik matahari dan hujan, para pekerja duduk bersila mengikat, memahat, dan mengencangkan setiap bagian dengan peralatan sederhana dan jauh dari kesan modern, namun sarat dengan keahlian yang diwariskan turun-temurun.

Yang membuat usaha ini istimewa bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal pelestarian keterampilan lokal yang kian jarang ditemui. Di tengah gempuran kapal fiber dan mesin pabrikan, Zulfan dan rekan-rekannya tetap mempertahankan cara pembuatan sampan kayu secara manual, mengandalkan pengalaman dan insting yang tak bisa digantikan oleh mesin sekalipun. Setiap detail dari kemiringan lunas hingga kelengkungan haluan dikerjakan dengan tangan, bukan cetakan.

 

Usaha kecil yang dijalankan Zulfan ini menyentuh langsung persoalan yang lebih besar yaitu bagaimana masyarakat pesisir bertahan hidup dan bagaimana ekonomi kerakyatan tumbuh dari keahlian lokal yang sederhana namun vital. Setiap sampan yang rampung dari bengkel terbuka di Paluh Baji akan menjadi alat produksi bagi nelayan lain, memutar roda ekonomi yang menyambungkan darat dan laut, antara Deli Serdang dan Serdang Bedagai.

seorang pengrajin yang bekerja di bawah naungan pepohonan tropis, tanpa sorotan, tanpa gemerlap, namun hasil karyanya menjadi penopang bagi kehidupan banyak nelayan yang menyandarkan rezeki pada laut. Ia adalah representasi kecil dari jutaan tangan pekerja di pelosok negeri yang menjaga denyut ekonomi kerakyatan tetap hidup, satu pukulan palu demi satu pukulan palu, satu sampan demi satu sampan.

 

Kisah Zulfan adalah potret nyata semangat kemandirian dan gotong royong masyarakat pesisir Sumatera Utara, dari sebuah kerja keras yang layak mendapat perhatian, termasuk dari para pengambil kebijakan di tingkat tertinggi, karena dari tangan-tangan seperti inilah roda perekonomian nelayan kecil terus berputar. narabisa/cmth