Menanam Inovasi, Memanen Ekonomi dari Tanjung Sementok
By : NARABISA
Diterbitkan pada 12 Aug 2026, 22:30 WIB
ACEH TAMIANG, 12 Agustus 2026 — Hamparan tanaman melon memenuhi lahan budidaya Kelompok Tani Melon Mutiara di Desa Sementok, Aceh Tamiang. Buah-buah melon berwarna kuning bergelantungan di antara sulur tanaman yang dirambatkan pada para-para. Di tengah kebun, petani melakukan perawatan tanaman sekaligus memeriksa buah yang telah memasuki masa panen.
Panen raya bertajuk “Melonesia” tersebut merupakan bagian dari program CSR Pertamina EP Rantau Field melalui pemberdayaan Kelompok Tani Melon Mutiara. Program itu diarahkan untuk mendorong pengembangan budidaya melon sekaligus memperkuat potensi ekonomi masyarakat melalui komoditas pertanian.
Field Manager Pertamina EP Rantau Field, Tomi Wahyu Alimsyah, mengatakan panen tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran dan kerja bersama antara perusahaan dan petani.
“Hari ini kita tidak hanya memanen melon, tetapi juga melihat hasil dari proses belajar, kerja keras dan kolaborasi dengan petani yang terus berinovasi mengembangkan budidaya melon serta mampu bangkit kembali setelah diterpa banjir bandang November 2025,” katanya.

Bagi kelompok tani, budidaya melon menjadi salah satu upaya untuk kembali menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat setelah bencana banjir yang melanda wilayah tersebut. Pengembangan tanaman dilakukan melalui proses pendampingan dan penerapan teknik budidaya yang memungkinkan buah tumbuh menggantung di antara jaringan tanaman.
Di dalam lahan budidaya, sejumlah petani dan pendamping terlihat memeriksa kondisi tanaman. Buah melon yang telah tumbuh kemudian dirawat hingga mencapai kualitas yang diharapkan. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa hasil panen merupakan bagian dari proses panjang yang membutuhkan ketelitian, keterampilan dan konsistensi petani.

Panen raya tersebut turut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan pemerintah setempat dan perwakilan Pertamina Zona 1. Kehadiran berbagai pihak memperlihatkan kolaborasi dalam mendukung pengembangan kelompok tani dan komoditas melon di Desa Sementok.
Media Relation Officer Pertamina Zona 1, Renita Yulia Kuswindriati, berharap kegiatan tersebut dapat memberikan pengetahuan sekaligus mendorong semangat masyarakat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Semoga kegiatan panen raya bisa menambah wawasan bagi masyarakat dan para petani bahwa dengan semangat dan inovasi bisa cepat bangkit kembali,” ujarnya.
Tidak hanya menjadi tempat produksi, kebun melon juga menjadi ruang pembelajaran. Sejumlah anak sekolah terlihat mendapatkan penjelasan mengenai tanaman dan hasil budidaya melon. Aktivitas tersebut memperkenalkan dunia pertanian kepada generasi muda sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi masyarakat dapat berjalan berdampingan dengan edukasi.

Dari sisi ekonomi, lahan seluas 1.600 meter persegi yang ditanami melon ditargetkan menghasilkan sekitar 1,6 ton. Dengan harga jual sekitar Rp20.000 per kilogram, nilai penjualan dari produksi tersebut berpotensi mencapai sekitar Rp32 juta, apabila seluruh hasil panen terserap pada harga tersebut.
Angka tersebut menunjukkan peluang ekonomi yang dapat tumbuh dari pemanfaatan lahan dan pengembangan komoditas pertanian lokal. Namun, nilai penjualan bukan berarti keuntungan bersih petani karena masih terdapat biaya produksi, perawatan dan kebutuhan lainnya.
Dari lahan di Tanjung Sementok, budidaya melon menjadi cerita tentang bagaimana petani mencoba bangkit melalui inovasi dan kerja bersama. Setelah menghadapi banjir, mereka kembali mengolah potensi yang dimiliki untuk menghasilkan komoditas bernilai ekonomi. Dari tangan petani, inovasi ditanam. Dari hasil panen, harapan ekonomi dituai. narabisa/CMTH